Selasa, 12 Oktober 2010

Kurikulum Metode Asing Belum Tentu Sesuai

BALIKPAPAN, KOMPAS.com - Metode-metode pengajaran yang dipraktikkan sekolah akan lebih baik jika tidak terlalu sering berubah apalagi jika sampai digantikan dengan metode asing yang diadopsi mentah-mentah.

Metode pengajaran yang sukses di negara lain belum tentu sesuai dengan budaya dan karakter di Indonesia. Penggunaan suatu metodologi pengajaran tidak bisa gegabah karena metodologi akan berpengaruh pada cara berpikir, karakter, dan budaya suatu bangsa.

Hal ini dikemukakan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh di hadapan guru-guru di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (11/10/) kemarin. "Kita harus lebih sering introspeksi. Jangan mudah serta merta mengambil dari luar dan dipakai di Indonesia. Ada syarat-syarat khusus yang tidak selamanya cocok," ujarnya.

Imbauan ini disampaikan karena ada kekhawatiran pada banyaknya guru dan sekolah yang terlalu sering mengganti metode pengajaran dengan metode asing terutama yang dilakukan guru-guru yang baru pulang studi banding di negara lain. "Banyak teman-teman guru yang senang coba-coba metode asing yang mereka pelajari ketika dapat kesempatan ke luar negeri. Tapi hanya coba-coba saja," kata Sugeng, guru SMA di Balikpapan.

Penyesuaian metode pengajaran asing di sekolah terutama juga harus dilakukan sekolah Rintisan Sekolah Berta raf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang membeli lisensi akreditasi dari luar negeri seperti Cambridge. Jika metode asing dipraktikkan mentah-mentah tanpa disesuaikan terlebih dahulu dengan karakter budaya di dalam negeri, di khawatirkan akan terbentuk siswa yang tidak lagi mencerminkan karakter dan budaya Indonesia.

Ide RSBI/SBI juga bukan begitu. Apa yang dikembangkan di Indonesia sesuai dengan standar internasional. "Jadi, tidak selamanya dari luar negeri kita tarik ke sini tetapi bisa juga produk kita diakui sehingga memenuhi standar yang dikembangkan internasional," kata Nuh.

OLIMPIADE PENELITIAN SISWA Selamat, DIY Juara Umum OPSI 2010!

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Provinsi DI Yogyakarta tahun ini kembali meraih Juara Umum Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2010 di Jakarta, 4-9 Oktober. Kemenangan ini merupakan yang kedua berturut-turut.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, OPSI 2010 menerima 983 naskah. Naskah yang lolos seleksi sebanyak 95 kasus yang terdiri dari 40 naskah kelompok Sains Dasar, 30 naskah kelompok Sains Terapan, serta 25 naskah kelompok Sosial dan Humaniora. Setiap peserta OPSI harus mempresentasikan makalah di depan juri.

Kegiatan yang diselenggarakan 4-9 Oktober 2010 ini ditujukan khusus bagi siswa sekolah menengah atas. ”Penelitian harus dikenalkan sejak dini agar pelajar bisa merumuskan satu masalah,” kata Suyanto seusai acara penutupan dan pemberian penghargaan pemenang OPSI, Jumat (8/10/2010).

Sekretaris Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdiknas Bambang Indriyanto menyatakan, peraih medali emas mendapat hadiah Rp 10 juta, peraih medali perak Rp 7,5 juta, sedangkan peraih medali perunggu mendapat Rp 5 juta. Selain itu, setiap finalis mendapat Rp 1 juta.

Yogyakarta juara umum

Pada OPSI 2010, kontingen DI Yogyakarta yang terdiri dari 15 kelompok pelajar meraih empat medali dari 21 medali yang diperebutkan, yaitu dua emas, satu perak, dan satu perunggu. Dengan demikian, DI Yogyakarta menjadi juara umum.

Pelajar DI Yogyakarta juga berhasil meraih dua penghargaan khusus, yaitu presentasi terbaik untuk bidang Sains Dasar serta bidang Sosial dan Humaniora. Medali emas diraih oleh Taufik Ibnu Hidayat dari SMA Negeri 1 Sewon, Bantul, untuk bidang Sains Dasar Fisika. Pelajar kelas III itu menciptakan alat pompa air dengan menggunakan pompa celup yang biasa digunakan di akuarium untuk membantu penduduk di daerah sulit air.

Medali emas lainnya diperoleh di bidang Sains Terapan Biologi oleh RR Zhafira Arum Prabatitis dari SMA Negeri 2 Bantul atas penelitian terhadap perilaku lalat. Zhafira juga meraih penghargaan presentasi terbaik untuk bidang Sains Dasar.

Selain itu, satu penghargaan presentasi terbaik untuk bidang Sosial dan Humaniora diraih dua pelajar SMA Negeri 8 Yogyakarta, Galang Prita Dewi dan Maria Faustina Sari, yang membuat penelitian mengenai bank sampah.

Juara Umum Kedua OPSI 2010 diraih Provinsi Banten dengan dua medali emas dan satu perunggu. Provinsi Bali menjadi juara umum ketiga dengan satu emas dan dua perunggu.

Selasa, 13 Oktober 2009

Genius

Kenapa orang bisa pintar?
Karena mereka sering berlatih. Latihan berkali2 pazti kamu bisa.
Seseorang yang pengen bisa nyetir mobil tidak cukup cuma mempelajari teori saja. Walo dia pinter aturan2 nyetir mobil dan teorinya, kalo dia tidak mau berlatih di jalan or lapangan, selamanya dia tidak akan bisa nyetir mobil.

Artinya jika kamu cuma membaca buku dan materi belajar, tanpa memperbanyak latihan dengan soal2, maka kamu ga akan bisa pintar.

Minggu, 04 Oktober 2009

Satu Kesempatan Seribu Jalan Sejuta Harapan

Pernahkan kita melewatkan satu kesempatan, hingga paa akhirnya penyesalan yang kita rasakan? Mestinya pernah, sekecil apapun. Kita tidak menyadari, di balik satu kesempatan itu di dalamnya berisi seribu jalan yang akan membawa sejuta harapan. Itulah, begitu berlalu kesempatan, terlewatkan jalan dan hilanglah harapan. Duh, sakitnya....
Banyak di antara kita berusaha menjadi seorang yang berpikir diri kita berlebihan, tetapi hanya pada saat ini. Tidak berpikir jauh langkah kita ke depan. Sehingga, banyak "dalih mulia" untuk menghindari kesempatan, dan sayangnya itu banyak terjadi pada kita.
Pahami sebuah cerita sederhana ini. Cerita seperti ini bisa terjadi dalam bentuk dan versi lain dalam kehidupan kita.
Di sebuah desa terpencil, seorang pemuda menderita penyakit kulit yang tidak kunjung sembuh. Seorang tabib di desanya mengatakan dia akan sembuh setelah mandi di sebuah telaga yang terletak di balik gunung, jauh dari tempat tinggalnya.
Beberapa kemungkinan akan terjadi:
(1) Pemuda itu akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mandi di telaga tersebut. Inilah pemuda yang pumya semangat, termotivasi. Padahal, dia juga belum tahu apakah usahanya akan berhasil atau tidak. Keberanian pemuda tersebut mengambil keputusan patut diacungi dua jempol.
(2) Pemuda tersebut menghitung kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Menghitung kemungkinan memang merupakan langkah tepat. Kalau hitung-hitungan didasarkan pada berbagai kemungkinan yang logis, jelas itu baik. Tapi, pehitungan yang dilakukan biasanya cenderung bentuk keragu-raguan. Keraguan inilah yang akhirnya bernilai negatif. Bukan masalah hasil akhir dari perhitungan, tapi proses yang terjadilah yang kita coba telaah. Jika hasil akhirnya pemuda tesebut memutuskan pergi menuju telaga, berarti pemuda tersebut selalu penuh perhitungan. Tapi jika hasil akhinya tetap tidak berangkat, berarti pemuda tersebut lebih bersifat pesimistif, lebih banyak negative thinking, yang jelas ga cocok jadi pacar idaman (udah penyakitan, susah kalau diajak usaha.)
(3) Pemuda tersebut langsung menyatakan dengan tegas tidak pergi ke telaga. Dengan dalih apapun, keputusan tidak pergi ke telaga adalah keputusan konyol. Semua tidak ada yang mengetahui apakah telaga tersebut benar-benar nanti bisa menyembuhkan pemuda tesebut atau tidak. Artinya, semakin kecil informasi yang akan didapat pemuda itu tentang telaga. Pemuda jenis ini jelas hanya bisa dijadikan "pelengkap dunia". Udah sakit ga sembuh-sembuh diajak berusaha aja langsung menolak. Berharap bantuan turun dari langit. Budaya pengemis, budaya peminta-minta. Jika diterjunkan ke medan perang mati pertama (walaupun matinya bisa terlihat heroik, itu cuma karena nekat nggak ada opsi lain).
Biasanya ketidakbersediaan memanfaatkan kesempatan ini bisa dengan aneka dalih. Dalih tidak ada biaya (walaupun tentengannya HP mahal), berat melakukannya (walaupun kalo sama pacar bukit kan kudaki laut kuseberangi), dalih orang tua tidak merestui (meski pacaran back street jalan terus), dalih Tuhan pasti memberi jalan lain (diberi jalan satu aja nggak dimanfaatkan-inilah jenis manusia pengatur Tuhan, kalau sesuai selera Tuhan menjadi penolong, kalau nggak sesuai selera Tuhan disomasi untuk mengubah petunjukNya) atau dalih-dalih lain yang sebenarnya hanya untuk menutupi semangatnya yang letoy.
Sekarang, kita bisa melihat diri kita. Termasuk yang manakah kita? Atau, minimal kita bisa mencocokkan, termasuk kriteria mana yang kita suka. Yang jelas, jangan menjadi pemuda (atau pemudi) yang letoy, ga semangat, anti motivasi, anti perubahan, pasrah pada keadaan, berharap semua turun dari langit, mental pengemis.
(Pipit B Nugroho-Oktober '09)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 03 Oktober 2009

Selamat Datang Peserta Bimbel...

Ga nyangka... Kalian yang super hebat mampu mengambil keputusan dahsyat, bergabung di program bimbel UGAMA. Persiapkan diri, beberapa waktu ke depan Host UGAMAnia akan menemani belajar Kalian yang super hebat. Jangan lewatkan posting periodik di blog ini, agar Kalian tetap menjadi yang terbaik... Selamat bergabung!!! Salam sukses generasi cerdas...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 06 Agustus 2009

Selamat Jalan Mbah Surip...

Segenap keluarga besar Bimbingan Belajar UGAMA mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Mbah Suripa. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan selalu diberi ketabahan dan kesabaran.

Mbah Surip,
I Love You Full.....

Post by pipit b bugroho
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 25 Juli 2009

Ujian Nasional Ulang

Senin, 15 Juni 2009 | 17:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Meskipun Ujian Nasional (UN) ulang tidak ada dalam prosedur operasi standar, UN ulang terhadap 33 SMA/MA dan 16 SMP bermasalah itu tetap dilaksanakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

Dengan mengadakan UN ulang, BSNP sebagai lembaga independen penyelenggara UN berpotensi melanggar tiga hal, yaitu standar pemberian informasi data secara terbuka (disclosure of findings), standar interaksi manusiawi (human interaction), serta standar penilaian yang fair dan lengkap (complete and fair assessment).

Pemberian Informasi
Prinsip pemberian informasi data secara terbuka mengatakan, pihak-pihak yang bertanggung jawab atas program evaluasi pendidikan harus memastikan, semua hasil yang ditemukan dalam rangka evaluasi menghargai hak subyek yang dievaluasi untuk mengetahui hasil akhir sebuah proses evaluasi pada waktu yang telah ditetapkan. Hak untuk mengetahui ini terkait dijaminnya privasi individu, hak sipil dan hak asasi, serta perlindungan kesehatan dan keselamatannya.

Masalah UN ulang mencuat karena baru kali ini terjadi di sekolah favorit yang persentase ketidaklulusannya nol (0) persen, terlebih salah satunya terjadi di sekolah negeri. Seperti dilaporkan Kompas, jika pengakuan siswa-siswi SMAN 2 Ngawi bahwa mereka menjawab soal-soal tanpa bantuan orang lain itu benar, UN ulang merupakan pelanggaran terhadap siswa, pemangku kepentingan. Mana mungkin siswa satu sekolah memiliki jawaban hampir sama. Sialnya, jawaban itu salah semua.

Mengadakan UN ulang tanpa menjelaskan rincian alasan merupakan pelanggaran terhadap hak siswa. Penyelenggaraan UN harus menjelaskan mengapa ketidaklaziman terjadi. Selain itu, UN ulang tidak adil karena siswa yang jujur juga harus menanggung risiko mengulang.

Kecurangan yang menyebabkan semua siswa satu sekolah tidak lulus merupakan pelanggaran prosedur standar evaluasi pendidikan sehingga hasil akhirnya tidak bisa dipakai untuk membuat kesimpulan valid tentang kemampuan siswa. Maka, informasi terbuka kepada siswa, orangtua, dan masyarakat harus menjadi agenda utama BSNP sebelum mengadakan UN ulang.

Interaksi Manusiawi
Standar prinsip interaksi manusiawi mengatakan, evaluator harus menghormati martabat dan keluhuran manusia dalam interaksi dengan orang lain terkait proses evaluasi sehingga peserta tidak terancam atau dirusak. UN ulang mengesampingkan interaksi manusiawi dan hanya berbicara melalui logika kekuasaan, bukan prinsip pedagogi dalam rangka evaluasi.

Meski tidak ada aturan UN ulang, BSNP tetap mengadakannya karena dianggap memiliki kewenangan politik sebagai penyelenggara UN. Penggunaan kekuatan politik tanpa melihat sisi pedagogis jelas mengesampingkan harkat dan martabat siswa yang telah menyiapkan UN.

Harapan siswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dengan tenang diguncang karena harus ujian lagi. Evaluator perlu menyadari, menjaga martabat dan harga diri siswa merupakan bagian dari tugas utamanya sebagai penyelenggara evaluasi, bukan menggunakan kekuatan politik untuk memaksa subjek mengikuti UN ulang dengan risiko tidak lulus jika tidak mengikuti. Ancaman politik dan psikologis seperti ini tidak boleh terjadi di dunia pendidikan karena melanggengkan perilaku kekerasan.

”Fair” dan Lengkap
Prinsip penilaian yang fair dan lengkap mengatakan, evaluasi harus dilakukan fair dan menyeluruh, mencatat kekuatan dan kelemahan program yang sedang dievaluasi. Dengan demikian, kekuatan dapat dikembangkan melalui bidang-bidang evaluasi yang selama ini dianggap lemah. Pelanggaran sistematis dalam UN tahun ini sebenarnya tak beda dengan yang telah terjadi, seperti kunci jawaban beredar sebelum UN, bocoran naskah soal, dan guru memberi jawaban saat ujian (Kompas, 9/6).

Banyak kritik dan masukan, baik dari ahli maupun pemangku kepentingan, terhadap kebijakan UN, tetapi pemerintah menutup mata atas kenyataan ini. Kebijakan UN bukan saja salah sasaran jika ingin mengukur kualitas pendidikan nasional, melainkan lebih banyak melahirkan dampak negatif yang merusak dunia pendidikan, seperti direnggutnya otonomi guru sebagai evaluator serta rusaknya moralitas pendidik, pejabat pemerintahan, siswa, dan masyarakat, dengan meluaskan kultur tidak jujur dan tersistematis, bahkan sampai ke tingkat satuan pendidikan sekolah.

UN ulang merupakan pelanggaran terhadap hak siswa sebagai subyek, melanggar keadilan karena membiarkan siswa jujur terhukum, dan mengindikasikan pembuat kebijakan pendidikan masih enggan mendengarkan masukan dari masyarakat. Mereka masih suka mengelola pendidikan dengan menggunakan logika kekuasaan daripada prinsip-prinsip pedagogi pendidikan yang sesungguhnya menjadi jiwa bagi pendidikan nasional kita.

Penulis: Doni Koesoema A/Alumnus Boston College Lynch School of Education, Amerika Serikat

Sumber: Kompas.Com
http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/06/15/
17391651/Ujian.Nasional.Ulang.